GUMI PAER RAMBITAN / TANAH LELUHUR

DSCN0314Sepi mencekam, kala kelam semakin angkuhnya menelan kepekatan malam. Sepintas lalu terdengar suara rumpun  bambu riuh memuji alam. Angin berenang-renang di atas hamparan gora  yang menguning. Gonggong pun ikut menyumbangkan suaranya yang merdu. Namun cekikan bocah bermain petak umpat tak pernah terdengar.  Musnah tertelan gelombang kepekatan sunyi.

Aku duduk di sudut sepi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpencil. Malam tidur lelap mendengkur diselimuti rasa damai bahkan suasana mati. Orang-orang telah kehilangan separuh napasnya dalam kehangatan karena kerja dalam keseharian tak pernah selesai. Malam kian mendengkur. Sepi kian ganas mencekam pekat dalam kesendirian. Tinggal kerdipan lampu-lampu minyak rumah penduduk di atas bukit nun jauh di sana terlihat bagai kerdipan bintang-bintang yang bertaburan di langit.

Aku masih duduk bertahan pada separuh malam di sudut sunyi. Di bawah langit, di kaki bukit, di sebuah desa kecil terpenpencil. Di desa inilah aku sandarkan  segenap harap, letih, penat, dan gundah-gulana dari suasana hiruk pikuk kehidupan kota. Aku sengaja datang ke desa ini untuk menghabiskan masa liburan di rumah tua, milik perempuan tua yang aku panggil ninik. Suasana kehidupan di sini udaranya segar, jauh dari debu, polusi,  dan erosi moral  anak-anak negeri. Ditambah lagi dengan keindahan hamparan sawah ladang dengan padi gora yang menguning keemasan. Sungguh menakjubkan! Menambah rasa syukur dan kecintaanku kepada tanah air dan sang pencipta.

Lale, sudah larut malam. Tidurlah! Tidak baik untuk kesehatanmu”.

Terdengar suara ninik lembut memecah suasana sunyi dan membangunkan lamunanku.

”Sebentar nik!”, sahutku pendek.

”Di luar dingin. Masuklah nanti kamu masuk angin!,” suara ninik terasa menekan dan  terasa menyentuh hati. Aku pandang kelap-kelip bintang di kejauhan sana. Di antara gumpalan awan kelabu terlihat bulan sabit yang pucat pasi seolah enggan melangkah menyinari bukit-bukit bebatuan dan alam kehidupan desa. Terbetik seutas rindu pada mamiq dan inaq tercinta di alam sana. Aku makin meranggas dalam sunyi. Tubuhku kaku dan beku dibelenggu rasa. Enggan rasanya kakiku melangkah memasuki bilik kamar yang remang diterpa sinar lampu teplok. Enggan rasanya mataku terpejam melewati malam pertama. Namun, puji syukur tiba-tiba aku dengar sayup-sayup tembang asmaradhana yang menggoda jiwa dan rasa dari balik-bilik kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Jiwaku kalah dan terkapar dengan larik-larik tembang asmaradhana yang begitu magis dan romantis berbau mitos. Akhirnya jiwaku terbang mengarungi samudera mimpi yang indah.

Pagi yang cerah. Tersembul di balik bukit sang cahaya raksasa dengan senyum manja dan memamerkan keangkuhannya. Air ke luar dari sela-sela bebatuan cadas terasa sejuk dan segar membasahi kulit. Percikan-percikan air memental di antara bebatuan cadas bagai irama musik gendang beleq. Nyanyian burung koak-kaok dan kecial kuning pun turut serta menambah indahnya suasana pagi.

Cahaya raksasa semakin angkuh dan bernafsu menapaki langkahnya menyibak kelabunya awan tanpa kejenuhan. Aku lemparkan pandangan ke atas bukit tidak jauh dari rumah ninik. Terlihat orang-orang berbondong-bondong mendaki bukit dengan membawa bekal sesajian yang dijunjung di atas kepala. Aku merasa heran, ada apa gerangan di atas bukit itu?, batinku.

Ninik,  terlihat olehku orang banyak berbondong-bondong mendaki bukit itu. Arak napi dengan bukit nike Nik?”, tanyaku tidak sabaran.

”Mereka itu akan berziarah ke makam di atas bukit sana?  Hari ini hari Rabu tentu makam itu tidak akan pernah sepi dikunjungi kecuali selain  Rabu, Lale?

Araq napi dengan selain Rabu Nik?”

Pamalik. Tidak boleh. Dilarang oleh mangku, Lale. Pernah suatu hari ada orang mencoba melanggar larangan itu seketika tiba-tiba tubuhnya terguling ke kaki bukit sampai ia meninggal. Kalau Lale penasaran, pergilah ikut berziarah dengan mereka. Hitung-hitung olahraga pagi,” ucap ninik disela-sela kesibukannya menyiapkan sarapan. Aku pun makin tidak sabaran,  kuriositasku kian tak terbendung.

Bukit itu dapat aku daki, namun napasku terengah-engah turun naik elepator. Sesaat kemudian aku segera menyeruduk menerobos kerumunan para peziarah yang nampak sedang khusuk berdoa memohon ridho Allah atau sekedar untuk menebus nazarnya di hadapan makam itu. Adapula di antara mereka sedang mengikat suatu benda di antara untaian akar-akar pohon beringin sebagai simbol bahwa mereka pernah datang berziarah dan membuat nazar di makam itu. Apabila kelak telah terkabulkan nazarnya, maka wajib baginya datang untuk membuka simbol tersebut dengan membawa sesajian. Apabila tidak, konon akan mengalami kegagalan dalam menapaki kehidupan. Demikian cerita di antara mereka dengan penuh keyakinan.

Menurut cerita mereka juga, bahwa makam itu sangat keramat dan sakral. Konon ceritanya makam itu merupakan makam seorang wali dari tanah Jawa pembawa ajaran Agama Islam pertama di gumi paer Sasak. Wali tersebut bernama Wali Nyato, sehingga makam itu dikenal dengan sebutan Makam Nyato.

Tertebus sudah rasa penasaranku. Tidak lama kemudian aku meninggalkan makam itu. Namun entah mengapa tiba-tiba pandanganku tersandung pada sesosok tubuh pemuda tampan  bersahaja sedang duduk termenung memandangi luasnya langit yang tiada ujung. Aku mencoba mendekatinya.

”Ampure, tiang menggangu. Ada apa gerangan dengan Sanak?  Mengapa termenung seorang diri?  Mengapa tidak bergabung dengan mereka? Lihatlah sejenak, mereka sedang bersuka ria menikmati sesajiannya.” Aku setengah merayu untuk mengusik kebisuannya. Aku heran dibuatnya. Dia tidak bergeming sedikit pun. Apakah dia bisu, tuli atau dia seorang pujangga yang sedang mencari inspirasi?  Atau tabu baginya berbicara dengan seorang perempuan yang bukan muhrimnya? Akankah hal itu?

’’Ampure sekali lagi Sanak. Sudikah kiranya temani aku berbicara?  Dan sudikah kiranya Sanak menemani aku turun sambil menikmati indahnya warna pagi ini? Ataukah aku terlalu lancang mengusik ketenangan Sanak?,” seruku tak mau kalah. Tidak lama kemudian dia menoleh dengan tatapan mata kosong dengan sedikit senyum. Dia  mengulurkan tangannya. Aku pun mengerti nampaknya dia pun ingin berkenalan denganku.

*

Roda-roda waktu kian jauh menggelinding dan meluncur dengan dahsyatnya. Hari-hari berlalu dengan membawa sejuta cerita. Seiring dengan itu, aku dan dia kian akrab,   tiada bersekat di hati,  di seluruh tubuh,  dan  di setiap sel-sel dan denyut nadi.

Bahkan karekter dan gaya berbicaranya aku hafal dengan logat Sasak meriaq-meriqu yang kental.

Kini di desa  ini, di gumi paer ini aku merasa terlindungi, merdeka dari sunyi. Sebab aku telah menemukan  pijakan dalam sebuah pendakian. Sebuah pijakan yang sangat berharga dan tak dapat dinilai secara material. Pijakan itu adalah dia. Dia adalah sebuah bongkahan emas yang tak satu pun orang  yang mampu melihatnya apalagi menatahnya menjadi sebuah benda  berharga.  Dia sesosok pemuda yang lugu, polos, dan amanah.  Dia menghargai setiap orang berbicara dan  menghargai pendapat sekali pun pendapat itu berbeda bahkan menyakitkan.                                                    

Di luar terdengar benturan-benturan kayu dengan irama teratur. Suara itu tidak asing lagi terdengar di desa ini.  Suara itu adalah bagian dari kreativitas tradisi leluhur secara turun temurun yaitu keterampilan menyengsek. Di balik suara-suara itu, samar-samar aku dengar ninik memanggil. Aku intip lewat gorden jendela dan aku melihat dia. Dia sahabat baruku. Dia nampak sedang duduk bercakap-cakap dengan ninik di berugaq.

Tidak ragu aku bergegas ke luar  dan sedikit senyum seraya melepas salam.

”Assalamu ’alaikum.”

”Waalaikum salam,” jawabnya singkat.

”Apa khabar Kak, kok tumben laloq? Araq napi?”

”Wah, merasa tersanjung aku dipanggil  kak? Terima kasih ya?  Begini, maksud kedatanganku  untuk menyampaikan salam  inaq

bahwa side tepesilaq datang ke rumah sekarang juga.”

Araq napi Kak?,” jawabku dengan nada agak bergemuruh.

”Nenten araq napi-napi. Yah, sekedar silaturrahmi biasa. Tidak keberatan ’kan?”

”Keberatan sih tidak. Tapi mintakan aku izin dahulu pada ninik. Sebab ninikku agak galak    meskipun dia demokratis dalam keluarga,” gertakku seraya melirik ninik.

”Pergilah! Tapi ingat jangan lama-lama,” jawab ninik penuh pengertian.

”Baiklah kalau begitu. Maaf ya Kak, tunggu aku sebentar. Aku mau padamkan api tungku, habis baru saja aku selesai belajar memasak dan tentu juga aku mau ganti pakaian. Sekali lagi tunggu nggeh?,” celotehku sambil berlalu.

Kami menelusuri jalan setapak bebatuan di antara bekas tapakan kaki kerbau yang becek. Di sisi kiri kanan sesak dengan semak belukar dan pohon saeng simbur berduri. Kami terus berjalan mengitari pinggang bukit, mendaki, turun lagi begitu seterusnya. Kadang-kadang timbul kecurigaanku. ”Jangan-jangan…? Astagfirullah! Bahwa berburuk sangka itu sesungguhnya dilaknat Allah,” batinku sambil berusaha menetralkan perasaan  bahwa dia adalah laki-laki yang baik.

”Berapa jauhkah lagi rumahnya Kak?,” tanyaku sambil menyeka keringat yang

membanjiri pipiku.

”Di balik bukit itu. Kira-kira lagi 2 km,” sambil menunjuk ke arah bukit.

”Aku sudah tidak tahan lagi berjalan Kak. Capek!”

”Bersabarlah sedikit! Inaq pasti sudah tidak sabaran menunggu kita,” dia ber   usaha     menghiburku.

Setengah jam kemudian tibalah kami di pekarangan rumahnya. Aku melihat seorang perempuan tua hampir sebaya dengan ninikku sedang duduk di depan pintu. Ada rasa ngeri dibenakku. Bola matanya nyalang membakar rasa. Mulutnya komat-kamit sambil mengunyah sirih dengan gigi hitamnya. Di tangan kirinya menggenggam secuil tembakau hitam. Rambutnya berantakan berwarna putih. Kainnya kumal.  Lambung yang melekat pada tubuh keriputnya sudah pudar warnanya. Kurang lebih karekternya seperti lakon antagonis Dayu Sanur dalam drama Lautan Bernyanyi karya Putu Wijaya yang pernah aku tonton.

Aku amati sekeliling rumah itu. Lantainya dari tanah yang dilulurkan dengan kotoran kerbau dicampur dengan tumbukan halus daun ubi jalar. Sungguh menjijikkan menurut ukuran orang kota. Dinding rumah terbuat  dari anyaman bambu tanpa ventilasi dan beratapkan ilalang. Ukuran tinggi rumah kurang dari dua meter dengan luas 4×8 m. Bagian samping rumah terdapat kandang kerbau dengan kubangan lumpur yang berbau kurang bersahabat. ”Subhanallah. Sesungguhnya Allah masih menjamin kesehatan mereka dan memberkahi umur panjang,” batinku penuh kekaguman.

Tanpa aku sadari segelas kopi dan sepiring gadung rebus sudah ada di hadapanku. Aku sebenarnya tidak ada selera menikmatinya. Bukan karena pemandangan dan bau kubangan yang menyengat. Namun selama ini tenggorokanku belum pernah disentuh oleh kopi dan gadung. Apa lagi kopi pahit dengan ampas yang mengapung tebal bagai genangan lumpur Lapindo. Demi menghargai dan menghormati tuan rumah, aku mencoba menikmatinya meski pun ada rasa terpaksa.

”Ooo, inikah dedare inges yang kamu maksudkan itu Karde?,” tanya perempuan tua itu  dengan logat bahasa Indonesia yang agak kacau kedengarannya. Karde hanya tersenyum bangga. Perempuan tua itu mencoba menyelidikiku dari ujung kaki sampai ujung kepala yang dibalut jilbab. Aku  berusaha menguasai keadaan dan rasa dengan mengembangkan sedikit senyum.

”Kelihatan kamu ini, bukan orang kami. Dari mana gerangan dedare inges?,” tanya penuh selidik.

”Mataram Inaq!,” sahutku spontan.

”Ooo, Mentaram? Berarti kamu dengan kote?”

”Nggeh Inaq!”

”Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq  dengan toaq, dait taat  beribadah,” kata inaq Karde sedikit menyanjung.

Aku mulai timbul rasa heran dalam pikiranku. Apa maksud di balik perkataan perempuan tua itu? Karde bakti, taat? Di manakah letak taatnya itu? Kapan?  Sejak aku mengenali dia tidak pernah aku lihat sholat? Lantas pengikut kepercayaan  macam apa yang sangat dibanggakan oleh perempuan tua itu, sehingga anaknya dikatakan taat beribadah?  Ataukah perempuan tua itu membohongiku? Kalau tidak, bisa jadi perempua tua itu, Karde, dan sebagian penduduk desa ini penganut ajaran Islam Wetu Telu? Sebab aku pernah membaca sebuah artikel tentang ajaran Islam Wetu Telu. Kurang lebih begini isi artikel tersebut:

Agama Islam Wetu Telu merupakan agama warisan leluhur. Inti ajarannya adalah pengenalan terhadap tiga di antara lima rukun Islam. Ajaran ini tetap berpedoman pada kitab suci Al-Quran dan Hadits serta ditambah dengan ajaran yang tertulis di dalam lontar yang berisi Ushul, Fiqh, dan Tasawuf. Namun banyak di antara tulisan dalam lontar itu sulit dipahami oleh masyarakat awam, maka pemahaman mereka pun tersesat atau salah tafsir sehingga bermuara pada penyimpangan dari hakikat ajaran Islam yang sebenarnya.

Rukun Islam yang diakui dan dijalaninya hanya syahadat, sholat, dan puasa. Sementara yang mengerjakan sholat dan puasa hanyalah kyai. Bagi mereka yang bukan berstatus sebagai kyai tidak wajib mengerjakan  sholat dan belajar membaca al-Quran. Sebab segala urusan ibadah kepada Nenek atau Allah diserahkan sepenuhnya kepada kyai. Kyailah yang menanggung segala dosa pengikutnya dan yang menjamin mereka masuk Surga.

Berdasarkan uraian dari artikel itulah aku memperoleh gambaran tentang ajaran yang dianut perempuan tua itu. Sehingga aku berani memberikan kesimpulan dan menanyakan langsung perihal itu.

Ampure inaq, napi maksud taat beribadah nike.”

”Yah, taat menjalankan syariat agama Islam,” jawab perempuan tua itu dengan raut wajah berubah seketika penuh amarah dan tersinggung. ”Ampure  Inaq! Maksud tiang….   Maksud tiang….  .” Sebenarnya aku ingin meluruskan pembicaraan itu, tetapi perempuan  tua itu secepat kilat memotongnya.

”Ooo, maksud kamu mau menghina ajaran warisan leluhur kami? Kalau itu tujuan kamu datang ke gumi paer Rambitan  dan itu juga tujuan kamu mendekati Karde maka petaka akan menjemput kamu,” ancam perempuan tua itu dengan bahasa Indonesia yang lancar tanpa aku sangka-sangka.

”Nenten  maraq nike Inaq. Bagiku, apa pun agama mereka, apa pun bentuk dan keyakinan mereka pada dasarnya sama. Akan tetapi, yang paling mendasar bagaimana setiap pengikutnya  mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ajaran yang diikutinya itu untuk  kemaslahatan umat manusia di jagat raya ini. Bukan untuk mencari dan membesar-besarkan perbedaan di antara kita.”

Nampaknya emosional perempuan tua itu sudah menurun. Rupanya dia menerima apa yang telah aku utarakan dan memahami jalan pikiranku. Namun di balik itu, dia berharap aku mau menerima keinginannya sebagai menantu. Tentu aku harus menikah dengan Karde putranya itu.  Aku terkejut seketika. Akankah ada sebuah pernikahan pada  usiaku yang masih dini? Apalagi aku baru saja duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah? Tidak!  Aku sudah tak mampu lagi membangun kata yang tepat dan logis untuk menjawab kecuali kata pulang.

Dalam perjalanan pulang ke rumah ninik, aku tak mau berbicara sepatah kata pun. Meskipun Karde berkali-kali meminta maaf atas kejadian itu. Memang secara jujur dan mengikuti naluri kewanitaan, aku  simpati kepada pemuda desa itu. Aku pun tak dapat membohongi hatiku selama ini karena dialah tempat aku berpijak. Namun, mendengar pengakuan perempuan tua itu rasa simpati itu sirna bersama keringat dingin yang mengguyur sekujur tubuhku.

*

Senja bergayut di balik bukit. Merah lembayung hampir memudar di telan kelam. Segerombolan burung kenculit berterbangan ke luar dari gua bukit pergi mencari makan. Remang-remang pucuk pepohonan terlihat pucat. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara adzan. Aku segera bergegas mengambil air wudlu. Aku sholat Maghrib dengan khusuk. Aku berdoa  semoga Allah memberikan ketenangan. Setelah itu, aku mengaji. Tanpa sadar aku meneteskan air mata membasahi lembaran surat An-Nisa’ yang sedang aku baca. Tiba-tiba aku tersentak oleh suara daun pintu diketuk berkali-kali. Aku pun mendengar suara ninik memanggil bahwa di luar ada Karde.  Aku tidak menghiraukan panggilan itu.  Aku terus mengaji sembari menunggu waktu sholat Isya tiba. Akan tetapi,  tiba-tiba muncul ideku. Aku segera ke luar mengenakan mukenah yang tak sempat aku buka.

”Kak, sebentar lagi waktu sholat Isya tiba. Apakah Kakak mau menemani aku   mengaji dan setelah itu kita sholat Isya berjamaah?,” tanyaku penuh selidik.

”Aaa…. Anu….. nanti di rumah saja,” jawab Karde terbata-bata dengan raut  wajah   memerah.

”Kak, bagaimana aku akan menikah denganmu? Sholat tidak, mengaji tidak  bisa. Apakah ini bentuk agama warisan leluhur yang Kakak banggakan, Islam Wetu telu itu?,” dakwaku untuk berusaha membongkar misteri di balik kata  ’taat’  seperti yang telah dikatakan oleh perempuan tua itu. Tapi sayang,  tiba-tiba Karde menangis.

”Bagaimana mulai besok ajarkan Kakak mengaji dan sholat.”

”Apa dan untuk apa?,” aku pura-pura tidak mengerti.

”Kakak ingin menyempurnakan agama Islam yang sesungguhnya,” katanya tulus. Aku   terharu mendengarnya. Aku jabat erat tangannya, seraya mengucapkan alhamdulillah.

”Tapi, bagaimana dengan inaq?”

”Tidak usah dipikirkan. Kakak sekarang benar-benar sudah menemukan jati diri dan menemukan kedamaian hati yang selama ini terasa gersang dan gelisah. Semua itu karena kamu, seorang gadis tegar dan pemberani.”

”Alhamdulillah. Semua itu semata-mata atas kehendak  Allah.”

Esok harinya sesuai dengan niat Karde, aku mengajarinya mengaji dan sholat di rumah ninik. Semua berjalan lancar sesuai rencana. Karde memiliki tingkat kecerdasan luar biasa sehingga dalam waktu tiga hari semua materi yang aku berikan mampu dipraktikkannya.

”Bagaimana kalau kita ke bukit itu  untuk bersaksi di depan makam Nyato bahwa Kakak telah menjalankan syariat Islam dengan sempurna,” ajak Karde penuh kesungguhan.

Ampure Kak! Sekarang kan hari Minggu, pamalik.”

”Mulai sekarang jangan kita percaya. Sepanjang niat kita untuk mengabdikan diri kepada Allah bukan kepada syaitan atau makhluk lain.” Aku pun menyetujuinya dan kami pun bergegas menuju kaki bukit.

”Alam dunia, gumi paer. Lihatlah aku, Karde kini telah menyempurnakan keimanan kepada nenek sak kuase. Aku ingin bersaksi. Terimalah tobatku dan terimalah aku di gumi paer ini dan di alam keabadian-Mu. Ya Allah de panjak de kaji! Selamatkan dan berkahi sisa-sisa hidup de kaji!,” kata Karde lantang menantang keridoan Ilahi.

Setelah menumpahkan segala rasa di hadapan makam Nyato, kami menuruni bukit dengan hati berbunga dan penuh nur Ilahi. Beberapa langkah Karde menapaki badan bukit tiba-tiba pijakannya terpeleset dan terguling-guling jatuh ke kaki bukit. Aku berlari mengejar tubuh yang terguling-guling penuh darah dan luka itu. Namun usahaku sia-sia.

”Kak, bangun! Bangun Kak! Ayo bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri,” jeritku histeris penuh rasa bersalah.

”Maafkan aku, nggeh! Maafkan Karde! Aku sekarang sudah siap  pergi. Aku… ak… uu….ber… berterima ka…. sih  ke… pa… da…mu. Allahu akbar! Lailahaillallah!,” Karde dengan fasih mengucapkan asma Allah dan seketika itu pun dia terbang menuju alam keabadian.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya pula kita akan kembali kepada-Nya. Inilah suratan takdirmu Kak. Semoga arwahmu mendapat tempat terbaik disisi-Nya,”  rintihku pilu.

Setengah jam setelah peristiwa itu, entah siapa yang menghembuskan kejadian itu,  masyarakat penuh sesak bagai burung gagak menggerogoti bangkai mengerumuni tubuh Karde yang sedang terkapar kaku. Perempuan tua itu nampak berdiri persis di sisi kiri tubuh Karde dengan sumpah serapah menghujani ulu hatiku.

”Kamu pembunuh! Pembunuh! Nine nyentet ndek taon diriq. Dedare sial. Awas akan aku balas kamu! Akan kamu terima ganjarannya.”

Perempuan tua itu meludahiku. Jilbabku dicampakkan dan diinjak-injak. Mencabik-cabik rambut, wajah, dan sekujur tubuhku. Aku tak mampu melawan. Walaupun aku melawan tak ada maknanya sebuah perlawanan dalam situasi seperti itu.

Dedare sial dait ngontiq eni sengaja datang di gumi paer Rambitan untuk menghina kepercayaan leluhur kita. Sungguh terkutuk kamu dedare sial. Teganya membunuh anakku. Kita bunuh nine sial ini.  Kita bunuh! Ayo!  Mengapa kalian diam? Mari kita geret ke atas bukit.  Kita penggal lehernya untuk menebus dosa-dosanya dan kita jadikan tumbal persembahan kepada arwah leluhur kita,” serunya lantang  penuh amarah.

Aku gemetar ketakutan. Sekujur tubuhku terasa panas. Keringat dingin bercucuran mengalir deras di sela-sela luka tubuhku. Aku merintih tersiksa. Berduyun-duyun masyarakat membawa parang, tombak, keris,  kelewang,  dan  potongan  kayu.  Aku tidak diberikan kesempatan berkata sekedar untuk membela diri. Aku benar-benar digeret seperti bangkai anjing ke atas bukit itu. Aku pasrah apapun yang akan menderaku. Caci maki, hinaan, dipukul, ditendang, didorong, digeret dengan kasarnya hingga aku jatuh terkapar mencium gundukan makam Nyato.

Di atas bukit, pada sebuah pohon beringin besar tangan, kaki, dan badanku diikat. Sekujur tubuh disiram air garam. Betapa perih menyayat. Setelah itu, mereka meninggalkan aku seorang diri dengan penghormatan terakhir aku diberi minum setengah gelas air makam Nyato agar arwah leluhur mereka mau menerima aku sebagai tumbal persembahannya.

Dalam kesunyian itu,  antara sadar atau tidak, aku seolah-olah melihat Karde melambaikan tangannya sambil tersenyum berpesan, ”Jangan putus asa, tegakkan kebenaran. Dalam cinta ada kepercayaan dan dalam kepercayaan ada kekuatan. Allahu akbar.” Aku pun membalas senyuman itu. Seketika butir-butir darah merah di setiap lukaku berubah menjadi warna putih meloncat-loncat dan menari-nari penuh napsu dan gairah.  ***

Praya, Bulan Kemerdekaan 2009

Halil Subagiono, S.Pd.

Guru MAN 1 Praya

Glosarium bahasa Sasak :

Ampure : maaf

Arak napi : ada apa

Berugaq : balai-balai

Dedare inges : gadis cantik

Dedare sial dait ngontiq eni : gadis sial dan jalang ini

Dengan kote : orang kota

Gendang beleq : jenis musik daerah Lombok/Sasak (Genderang besar)

Gumi paer : tanah kelahiran leluhur

Gonggong : sejenis jengkerik

Inaq : ibu

Karde eni terune paling solah lek dese eni, bakti eleq dengan toaq dait taat beribadah:

Karde ini terune paling baik di desa ini, bakti di orang tua, dan taat beribadah.

Kecial kuning : burung kecial warna kuning

Kenculit : kelelawar kecil

Koak-kaok : burung satwa hanya ada di Lombok

Kok tumben laloq : Kok sekarang kelihatan

Lale : gelar bangsawan perempuan  suku Sasak Lombok

Lambung : sejenis baju adat suku Sasak

Mangku : pemimpin upacara adat suku Sasak

Mamiq : ayah

Meriaq meriqu : salah satu diantara 5 dialek dalam bahasa Sasak

Menyengsek : menenun

Nenek sak kuase : Allah Yang Maha Kuasa

Nenten maraq nike : Tidak seperti itu

Nenten arak napi-napi : tidak ada apa-apa

Nggeh  : ya

Ninik    : nenek

Nine nyentet ndek taon diriq : perempuan nakal tidak tau diri

Nyato : nyata

Sanak  : panggilan akrab

Saeng simbur : desmodium Sp. atau sejenis pohon berduri dapat dijadikan bonsai

Side : kamu

Tiang : saya

Tepesilaq : diundang

Wetu telu : waktu tiga

Ya Allah de panjak de kaji : Ya Allah pesuruh hamba

Satu Tanggapan

  1. saya atas nama org lauq(org pujut) jg bangga & brtrmksih ma u ton, atas kjujuran, ktulusan & kebaikan anda ma org2 kita….
    g kli terimaksh & mhon ma’f aja yg bsa ak ucapkn ma cthe ton..
    slam LOVE dri qta….
    kanak sasak tolenn.. BUMBANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: